SEJARAH DESA

SEJARAH DESA MARGOMULYO

 KECAMATAN TAYU – KABUPATEN PATI

Pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1800, Desa Margomulyo merupakan desa yang mengalami fusi atau penggabungan dari beberapa desa meliputi Desa Margotuhu Lor, Belah, Pandean, dan Widengan. Yang mana kala itu, desa – desa tersebut merupakan desa yang berdiri sendiri. Fusi atau Penggabungan beberapa desa yang kemudian disatukan, memiliki sejarah dan memiliki peristiwa tersendiri yang melatar belakangi terbentuknya desa baru yang diberi nama “Margomulyo”. [1]

Menurut sejarah, kala itu Desa Margotuhu Lor dipimpin oleh petinggi bernama Abu Rohim bersama Juru Tulis Desa Karto Atmojo pada tahun 1917 yang hanya berlangsung selama 2 tahun. Kemudian,  Desa Margotuhu Lor mengalami pergantian kepemimpinan desa. Semula dipimpin oleh Abu Rohim dan selanjutnya digantikan oleh putranya yang bernama Sunjoyo yang didampingi oleh Jayus sebagai Carik Desa.

Selanjutnya Desa Margotuhu Lor mengalami pergantian kepemimpinan kembali dari kepemimpinan Sunjoyo digantikan oleh Suwondo yang diberikan amanah menjabat sebagai petinggi Desa Margotuhu Lor. Suwondo menjabat sebagai petinggi Desa  Margotuhu Lor dari tahun 1931 hingga tahun 1938. Selama masa kepemimpinan Sunjoyo, terdapat peristiwa dimana beliau memakai uang pajak dan kemudian meninggalkan Desa Margotuhu Lor menuju Kabupaten Jember (Jawa Timur). Disana beliau menjabat sebagai seorang Mantri Kehutanan serta menggati namanya menjadi Suwignyo.

Sepeninggalan Suwondo, Kantor Desa Margotuhu Lor serta rumah pribadi miliknya saat ini telah berubah menjadi “Sawah Bentaro”. Nama Bentaro, asal mulanya diambil dari nama Pohon Bentaro yang tumbuh di kawasan tersebut. Konon cerita, kawasan tersebut sering dilalui oleh Bupati Jepara yang bepergian ke Rembang, ia sering singgah terlebih dahulu serta mengikatkan Kudanya di Pohon Bentaro.

Dikarenakan peristiwa tersebut, Desa Margotuhu Lor mengalami kekosongan kepemimpinan setelah sepeninggalan Suwondo. Kemudian, Wedana Ismoyo dan Sukemi selaku Asisten Wedana mengumpulkan empat petinggi desa yaitu Sunjoyo selaku mantan Petinggi Magotuhu Lor, Prakto Kasiyo Petinggi dari Belah, Pardam Petinggi dari Pandean dan Widengan, dengan tujuan guna mengadakan musyawarah serta meminta persetujuan mengenai keputusan melakukan fusi atau penggabungan keempat desa menjadi satu.  Setelah diadakan musyawarah maka diperoleh hasil yang mana semua pihak menyetujui untuk melakukan penggabungan empat desa tersebut dan diberi nama  “ Margo Mulyo”. Kata Margo berarti jalan, dan Mulyo mempunyai arti sehat, kepenak (dalam Bahasa Jawa). Musyawarah guna persetujuan dan penggabungan keempat desa tersebut dilaksankaan di rumah Abu Rohim (mantan petinggi) pada tahun 1939.

Setelah berubah menjadi Desa Margomulyo Kecamatan Tayu Kabupaten Pati, maka Desa Margomulyo dipimpin oleh seorang petinggi bernama Sokran Muntahir dan jabatan carik diisi oleh Dakelan. Sokran menjabat sebagai petinggi desa Margomulyo selama 4 tahun. Ketika Tentara Jepang mendarat kala itu, Petinggi Desa Margomulyo digantikan oleh Hadinoto yang dahulu pernah menjabat sebagai Carik Desa Belah.

Berikut ini daftar nama petinggi dan pamong desa yang pernah menjabat adalah sebagai berikut:

  1. Kartoredjo, Carik Desa Belah Kliteh pada tahun 1911.
  2. Soeragadjali, Modin Desa Belah pada tahun 1919.
  3. Soeraastra, Petinggi Desa Pandean pada tahun 1917.
  4. Kartawidjaja, Kamituwa Desa Pandean pada tahun 1921.
  5. Martaroes, kebayan Desa Belah pada tahun 1923.
  6. Atmaaboe, Petinggi Margotuhulor pada tahun1921.

Istilah pejabat kolonial :

  1. Wedana : Pembantu Pimpinan Wilayah Daerah Tingkat II (Kabupaten).
  2. Asisten Wedana: Camat

Sumber: Mbah Arjo Sukaryo Dk. Margotuhu Rojo, Ds. margomulyo Tayu, Pati.

[1] Cahyo Aditiyo, “Terbentuknya Desa Margomulyo Tayu Pati”, Catatan Sejarah Lokal Aditiyo, diakses pada Jum’at, 17 September 2021, https://cahyoaditiyo.blogspot.com/2019/09/terbentuknya-desa-margomulyo-tayu-pati.html?m=1